Dulu Ngruki merupakan sebuah desa dengan sawah terbentang, lahan kosong berjejeran, memandang dari ujung satu ke ujung yang lain berisikan tanah tanpa rumah. Seperti biasa karena kami masih sebuah desa tanah lapang kosong menjadi andalan para pemuda untuk berlomba-lomba dengan burung daranya kalau istilah jawa ngepleke doro”.
Seperti biasa tak lain karena berubahnya zaman dari generasi ke
generasi permaina ngepleke doro ini sudah tidak musim lagi di kampung
Ngruki, bergantilah dengan generasi sepatu roda dan spiner tak lupa gadgetnya. Sejarah Ngruki di mulai sejak para tokok ulama’ mendirikan sebuah kumpulan kecil pengajian
hingga akhirnya menjadi sebuah pesantren dengan santri ribuan.
Sudah hampir menempati umur setengah abad pondok pesantren Ngruki
didirikan. Dari berbagai daerah Sabang sampai Mareuke menghuni pesantren ini. Mereka
bisa mengenal satu sama lain dengan berbagai bahasa yang berbeda walaupun di
pesantren tetap menggunakan bahasa arab atau inggris.
Dengan begitu terjawablah kenapa masyarakat Ngruki banyak yang
tidak bisa menggunakan bahasa jawa
halus? Sebagian dari pribumi Ngruki
bukanlah yang memiliki tanah kelahiran di solo. Tapi solo punya dari tarik
tersendiri untuk para perantau.
Kini sejauh mata memandag yang kita lihat adalah jejeran perumahan.
Banyak para wali murid yang awalnya mengunjungi hingga akhirnya menjadi pribumi Ngruki.
Sukoharjo, 15 Juli 2017 21:20 WIB
Sabtu legi, 21 Syawal 1438 H
#30DWC7#Squad6#Day10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar